Menanti maryamah karpov

November 29, 2008 at 9:18 am | In Uncategorized | Leave a Comment
Berapa hari yang lalu Fajar dengan setengah terpekik meemberitahu sesuatu. Dari situs buku www.inibuku.com, ia melihat “Maryamah Karpov” sudah bisa dipesan. Aku pun memberitahu dwi yang kebetulan juga sedang online dari warnet dekat pondokan lewat yahoo messenger.
Kini tanggal 29 mendekati hari terakhir bulan november. Buku tersebut memng dijadwalkan untuk terbit akhir bulan ini dan beredar awal desember nanti. Mungkin sekitar tanggal 3 atau 4 buku tersebut sudah beredar di makassar.

Ah… penantian panjang kami pun akhirnya berujung. Barusan sinopsis dari buku maryamah karpov sudah kudapatkan dari www.bukabuku.com serta bukudiskon.com yang kurang lebih sebagai berikut :

“Jika dulu aku tak menegakan sumpah untuk sekolah setinggi-tingginya demi martabat ayahku, aku dapat melihat diriku dengan terang sore ini: sedang berdiri dengan tubuh hitam kumal, yang kelihatan hanya mataku, memegang sekop menghadapi gunung timah, mengumpulkan napas, menghela tenaga, mencedokinya dari pukul delapan pagi sampai magrib, menggantikan tugas ayahku, yang menggantikan tugas ayahnya. Aku menolak semua itu! Aku menolak perlakuan buruk nasib kepada ayahku dan kepada kaumku. Kini Tuhan telah memeluk mimpi mimpiku. atas nama harkat kaumku, martabat ayahku, kurasakan dalam aliran darahku saat nasib membuktikan sifatnya yang hakiki bahwa ia akan memihak kepada para pemberani.

Keberanian dan keteguhan hati telah membawa Ikal pada banyak tempat dan perstiwa. Sudut-sudut dunia telah dia kunjungi demi menemukan A Ling. Apa pun Ikal lakukan demi perempuan itu. Keberanian ditantang ketika tanda-tanda keberadaan A Ling tampak. Dia tetap mencari, meski tanda-tanda itu masih samar. Dapatkah keduanya bertemu kembali? Novel ini menceritakan semua hal tentang Laskar Pelangi, A Ling, Arai, Lintang, dan beberapa tokoh dalam cerita sebelumnya. Tetap dengan sihir kata-katanya, Anda akan dibawa Andrea pada kisah yang menakjubkan sekaligus mengharukan.”

Lelaki yang menjadi suamimu

November 26, 2008 at 8:59 am | In Uncategorized | Leave a Comment
Suasana Pasar (tempat kumpulan mace2 penjual makanan dan minuman yang letaknya di belakang fakultas ekonomi dan sospol serta samping mesjid nurul ilmi) terlihat rame ketika aku dan Hj. Hasma baru datang. Sebelumnya aku bertemu dengan hasma di lantai dua gedung akademik fisip yang sedang menunggu pak ikbal. Karena mungkin masih lama jadi aku turun ke bawah dan hasma pun mengikutiku.

Coffemix 3 gelas di pesan hasma, untuk aku, aidil dan dia sendiri. Kami pun berbincang-bincang sekedarnya sambil mataku melihat di layar notebook yang sedang di gunakan oleh upi’. Sesekali upi’ tertawa melihat gambar atau info dari internet yang ada di layar laptop itu. Internet memang bukan lagi barang mewah saat ini. Cukup bermodalkan laptop yang punya wifi (wireless idelity) dan mencari daerah kampus yang ada sinyal acces pointnya, maka kita bisa berinternet sepuasnya.

Selang 15 menit aku duduk disitu sambil mengedarkan pandangan, mataku tertuju pada satu sosok yang sangat ku kenal. Dia berada diantara kumpulan anak-anak antro dan sosiologi di kantin FISIP yang berjarak beberapa meter di depanku. Dia tersenyum. Aku pun membalasnya dan kemudian beranjak menghamprinya. Berjabat tangan kemudian memeluknya.

Rambutnya di potong pendek 3 cm. Dengan jas levis yang necis dan helm besar di tangan senyumnya tak lepas dari mulutnya sambil bertanya kabar kepadaku dan mengeluhkan bahwa sedikit sekali muka yang dia kenali di kampus ini. Hanya ka iccang (politik 97) dan anto (poltik 98) serta diriku.

Aku mengenalnya sejak mahasiswa baru, waktu itu rambutnya gondrong sehingga tampak sangar dihadapan maba apalagi waktu itu ospek. Orang memanggilnya yang kalau dalam bahasa indonesia artinya “anak laki-laki”. Sewaktu awal kuliah dia sering menitip salam buat salah seorang teman angkatanku.

Kini dia berdiri dihadapanku sebagai salah seorang pegawai bank di tanah kelahirannya, papua. Dia berada disini karena sedang cuti. Katanya anaknya yang baru lahir kemarin hari minggu adalah laki-laki. Aku pun tak kuasa menahan rasa bahagiaku. Meskipun rasa perih ini juga sedikit menusuk. Aku tahu dia bahagia seperti bahagianya dirimu. Karena dia lelaki yang menjadi suamimu.

“lelahmu jadi lelahku juga..”
“bahagiamu bahagiaku juga..”

(dee)

Sebuah mitos tentang telepon koin

November 22, 2008 at 12:33 pm | In Uncategorized | Leave a Comment
22 november itu…
Telepon umum koin mungkin sudah jarang terlihat di sekitar kita, apalagi yang terlihat digunakan. Di sekitar kampus unhas tamalanrea sendiri bisa dihitung dengan jari keberadaannya. Yang masih bisa disaksikan sampai sekarang adalah dua buah di pintu satu unhas yang tidak dapat lagi digunakan dan empat buah di lantai dasar rektorat dekat mesin atm yang masih dalam keadaan bagus meskipun terkadang butuh kesabaran dalam menggunakannya.

Tetapi bukan itu yang membuatku teringat kepada telepon-telepon koin ini, melainkan di tanggal yang sama pada hari ini 5 tahun lalu, ketika angin malam bulan ramadhan meniup bulu-bulu kuduk dan yang terdengar hanyalah dua suara. Sebuah suara di tamalanrea ini dan suara lainnya di ujung telepon itu berasal dari kejauhan jalan cendrawasih. Waktu itu kau masih kuliah tetapi sudah pada taraf penyelesaian skripsi, sedangkan aku masih semangat-semangatnya berdiri pada kaki mahasiswa semester 4.

Suara disini terdengar, telinga disana mendengarkan. Aku bernyanyi, lagunya selamat ulang tahun. Aku tahu kau tersenyum, meskipun hanya telingamu yang mendengar. Lalu kau bilang bahwa aku terlambat beberapa jam. Karena siang sebelumnya seseorang lainnya berkata duluan persis seperti pintaku pagi itu dan kau tak kuasa menolaknya.

Kini 5 tahun berlalu, dan aku masih berucap yang sama di tanggal dan bulan ini tapi sekarang tidak dengan lagu. Karena ku tahu engkau pasti sangat lelah dengan kondisi tubuhmu saat ini untuk mendengarkan. Engkau bilang sedang cuti, makanya berada kembali di makassar ini. Aku tahu dengan perut 9 bulan itu engkau kepayahan berdiri berlama-lama. Tempat telepon di rumahmu hanya terletak di dinding dan tidak ada kursi di dekatnya. Tapi aku tahu kau masih tersenyum dan memintaku untuk datang, setidaknya menyemangatimu.

Aku tahu engkau pasti deg-deg an menanti kelahiran itu. Katamu lelaki perempuan sama saja ketika ku tanya yang mana akan kau pilih ?

Aku akan datang, nanti
Karena bahagiamu bahagiaku juga

Aku tak tahu kenapa lagu ini baru muncul sekarang
Apakah memang dee sudah menunggu kapan waktu tepatnya diluncurkan lagu ini ?
Meskipun begitu Aku bersyukur masih bisa mendengar lagu ini
Aku bersyukur pernah mengenalmu
dan Aku bersyukur kepada dwi yang mengenalkanku pada Dee

“mundurlah wahai waktu
ada s’lamat ulang tahun…”

Pencapaian-pencapaian…

November 20, 2008 at 12:58 pm | In Uncategorized | Leave a Comment

Huff…..!!

Akhirnya beberapa pencapaian sudah aku penuhi, setidaknya untuk diriku sendiri.

Menyaksikan dwi ujian meja kemarin merupakan salah satu dari beberapa pencapaianku. Masih ada dua lagi, melihat “malaikat dan iblis” yang akan diputar di bioskop 2009 nanti serta menanti “solomon key” yang juga akan terbit di tahun yang sama dan tak lupa pula nasib akhir ikal pada maryamah karpov.

Aku sebenarnya tidak muluk-muluk pada ketiga hal terakhir ini, melihat dwi yang ujian saja sudah menjadi hal terakhir setelah menanti film laskar pelangi dan tentu saja menyelesaikan skripsiku.

Aku ingin berdamai dengan lelah dan diriku sendiri, sedikit saja.

Besok dwi ujian meja

November 18, 2008 at 9:53 am | In Uncategorized | Leave a Comment

Hari rabu besok mungkin menjadi sebuah hari istimewa bagi dwi. Fenomena Jurnalisme warga yang diangkatnya menjadi ulasan skripsi akan mengantarkannya menuju gerbang sarjana dengan sebuah kunci yang bernama “ujian meja”. Berbagai macam rasa sudah tentu menyatu di pikirannya saat ini. Aku bisa merasakan hal yang sama ketika tanggal 25 september lalu “da vinci code” ku di uji.

Sekarang aku hanya bisa berdo’a, tentu saja ku harap bersama teman-teman yang lain pun turut larut bersamaku…….

Ayo DWI… semangat………..!!!!!

Greget DEWIQ, dari "Sunny" yang "pernah muda" hingga "50 tahun"

November 18, 2008 at 12:41 am | In Uncategorized | Leave a Comment
Pancaran sinar memang lebih besar dan terang daripada sumber sinar itu sendiri. Senter mungkin menjadi salah satu alat yang seperti itu. Seperti halnya senter, dalam dunia musik, aku mengenal satu sosok pencipta lagu dengan nama DewiQ.

Beberapa waktu lalu lagu-lagu “aneh” seperti “Sunny” telah akrab di telinga orang. Aku masih ingat salah satu artikel kompas pernah menyebut lagu itu termasuk dalam beberapa deretan lagu yang abadi di telinga pendengar mungkin sampai puluhan tahun yang akan datang.

Sama seperti lagu-lagu yang diciptakannya, nama DewiQ yang dipilih oleh Cynthia Dewi Bayu Wardhani ini pun terdengar unik. Wanita yang menjadi istri dari ipank salah satu mantan personel Slank ini merupakan putri kelahiran Ujung Pandang 15 Juni 1975. boleh lah aku berbangga diri pernah menjejakkan kaki di tanah kelahirnya.

Kekuatan Sang dewiQ menurutku adalah bagaimana dia bisa membangun karakter yang kuat pada orang yang menyanyikannya sehingga dengan sendirinya sosok sang penyanyi itu sendiri bisa kuat melekat di ingatan para pendengar tanpa mengilangkan jiwa DewiQ dalam lagu itu. Tengoklah lagu “temui aku” yang pernah di nyanyikan oleh audy sehingga melambungkan nama audy beberapa waktu lalu. Lagu tentang cinta sebenarnya yang kadang tidak menyebut kata “cinta” di dalam lagunya, ini merupakan kekhas-an DewiQ berikutnya. Lalu ada “50 tahun” yang dibawakan oleh warna, kembali menegaskan tekad dan perjuangan menegakkan cinta, dulu aku mengira ini adalah lagu perjuangan.

Kita juga tidak akan lupa pada lagu “OK” yang dibawakan dengan gaya centil oleh duo Tika dan tiwi afi. Ada juga “jenuh” oleh rio febrian dan “Bukan Permainan” melalui suara gita gutawa serta “Cinta di Ujung Jalan” dalam suara favoritku, Agnes Monica.

Bunga citra lestari yang pernah melambung namanya melalui “sunny”, kini baru beberapa waktu setelah melepas masa lajangnya dengan pangeran dari negeri seberang pun telah meluncurkan album terbarunya yang bertajuk “tentang aku”. Nah salah satu karya “aneh” DewiQ kembali dibawakan yang berjudul “pernah muda”. Lagu ini berkisah tentang calon mertua. Aku mengatakan sekali lagi disini, lihatlah karakter bunga yang dibangun dewiQ (apalagi kalau dikaitkan dengan pernikahannya yang baru-baru ini).

Bilang papa mu
Ku takkan buat kau berubah menjadi anak yang nakal
Bilang mama mu
Ku cinta padamu dan aku tak pernah main main

Reff :
Biarkanlah saja dulu kita jalan berdua
Mereka pun pernah muda… pernah muda…

Bilang papa mu berhenti urusin semua urusan kau dan aku
Bilang mama mu tak perlu kuatir atau pun curiga kepadaku

Biarkanlah saja dulu kita jalan berdua
Mereka pun pernah muda…
Saatnya kau dan aku sekarang

Namun seperti senter diatas tadi, DewiQ tidak terlalu terkenal seperti sinar yang dipancarkannya. Tetapi disinilah sekali lagi kekuatan seorang DewiQ, tak pernah berhenti untuk Terus Berkarya.

Andai saja

November 15, 2008 at 2:31 pm | In Uncategorized | Leave a Comment
Andaikan kemarahan maupun kesedihan yang selalu berupa pukulan tendangan tikaman pisau atau pun hujaman pedang, maka aku akan memilih dalam bentuk kata-kata ini saja.

Andaikan kita tak pernah bertemu
Andaikan beras di kamar waktu itu tidak pernah habis sehingga memaksaku memintanya pada kakak mu
Andaikan aku tidak ikut berlibur di kampung itu naik motor bersama saudara mu
Andaikan engkau tidak menyuruh ku mengambil air seember untuk keperluan mengepel dapur
Andaikan engkau tidak pernah menanyakan cantikkah alismu kalau dicukur ketika lulus SMP dulu ?
Andaikan aku tidak usah ikut UMPTN saja
Ah…Andaikan kita tidak pernah bertemu….

Tapi… aku bersyukur kita bertemu
Malah sangat bersyukur
Aku lebih merasa mengerti banyak hal seperti indahnya sebuah lagu,
sedikitnya beras, sulitnya fakir miskin, arti hemat bagi sebagian orang
beratnya buruh bekerja, kebahagiaan seorang ibu menyusui bayinya,
terik mentari yang dirasakan daeng becak dan penjaja roti,
sakit hati seorang kekasih ketika di khianati, kebutuhan seorang wanita akan kasih sayang di mana pun itu, dan tentu saja AGNES MONICA.

Namun sampai saat ini pun aku selalu tak pernah mengerti akan dirimu
Seperti Sigmund freud yang tidak pernah mengerti akan wanita
Seperti juga dirimu sendiri yang mungkin tidak mengerti akan pribadimu

Meskipun begitu, aku akan selalu mencoba,…mencoba dan mencoba
Berusaha mengerti akan dirimu
Baik kau tahu maupun tanpa kau tahu
Baik bersamamu atau pun tanpa mu
Baik waktu hidup ku hingga mati ku

Karena kau (tiga huruf)

Bertemu Jenderal

November 3, 2008 at 11:15 am | In Uncategorized | Leave a Comment
Hari masih pagi, ketika langkah kaki ini mulai terasa kasar diatas aspal jalan raya di pintu satu aku mengayunkannya menuju kampus. Setiba di pasar, anak-anak belum terlalu banyak. hanya ada taro, wanto, om (syahrul) dan diman sedang berbincang-bincang. Tidak terlalu jelas apa yang sedang menjadi topik. Aku mengambil

Dewi dewi yang berjuang …..

October 23, 2008 at 6:02 pm | In Uncategorized | Leave a Comment

BERJUANGLAH WAHAI DEWI….!!!!!

DEWI PEMILIK ILMU PENGETAHUAN

TAK ADA GERAK TERCIPTA TANPAMU…

ALAM DAN SEGALA MAHLUK BERMUNAJAT PADAMU

DAN MALAIKAT PUN MELETAKKAN SAYAPNYA BAGIMU

(untuk sang dewi sedang yang berjuang)




dewi lestari, di nama itu kita bertemu

October 23, 2008 at 3:25 pm | In Uncategorized | Leave a Comment

Aku tak pernah tahu kalau dulunya engkau mempunyai inisial “DL” dibelakang namamu. Ketika engkau menerangkan bahwa inisial itu berarti Dewi Lestari, aku berjibaku di masa kini. Saat aku sedang menyukai karya-karya Dee atau dewi lestari, aku tak tahu ini sebuah pertanda atau firasat seperti salah satu karya terakhir dee dalam rectoverso.

Sesungguhnya hal ini tidak akan terjadi kalau saja engkau tidak memperlihatkan akte kelahiranmu itu dan bukan salah Tuhan yang membiarkan cerita di balik inisial Dewi Lestari di belakang namamu itu mengalir dari mulutmu beberapa hari lalu. Kisah itu sebenarnya tidak terlalu istimewa hanya saja ini menyangkut tentang dirimu, maka semua menjadi lain. Aku sangat mengagumi setiap langkah dan sepak terjangmu. Bagaimana dengan gagah berani kau menghadapi ancaman kakak kelasmu waktu di bangku SD yang iri hanya karena engkau mempunyai nama yang sangat indah, “dewi lestari”, dan bagaimana juga engkau menantang berkelahi teman-temanmu yang laki-laki sewaktu kecil dulu.

Ah ranes…. engkau memang selalu istimewa, meskipun terkadang sikap dan keteguhanmu yang sekuat batu karang itu membuat kelabakan banyak orang. Tak tergoyahkan memang, bahkan ayahmu dan kakak-kakak laki-laki mu sendiri bingung menghadapi mu.

Ranes, dewi lestari, dan penantian ini selalu untukmu.

Next Page »

Blog at WordPress.com. | Theme: Pool by Borja Fernandez.
Entries and comments feeds.